Edukasi

Ahmad Zakiyuddin Ajak Peserta Webinar Globalkan Budaya Lokal : Yuk Ngonten Tentang Indonesia

JabarPlus.com – Kementerian Kominfo berkerjasama dengan Siberkreasi Gerakan Makin Cakap Digital 2022 Menyelenggarakan Webinar Nasional Literasi Digital untuk Komunitas Kabupaten Cianjur, Minggu 18 September 2022 dengan mengambil tema : “Mempromosikan Komunitasmu Dengan Sosial Media”.

Hadir sebagai pemateri, Ketua Umum Perhimpunan Humas Perguruan Tinggi Indonesia (Perhumani) yang juga Akademisi Fisip Universitas Langlangbuana Dr. Ahmad Zakiyuddin, S.IP., M.I.Kom,. Dosen STMIK MIC CIKARANG H Youri Lylie, S.KOM.,MM dan Dosen serta Praktisi Ir. M Adhi Prasnowo., ST., MT., IPM., ASEAN Eng dan Broadcaster serta Journalist yang juga Moderator Dinia Saridewi, MA

Dalam pemaparannya Ahmad Zakiyuddin membagikan Globalkan Budaya Lokal: Yuk Ngonten Tentang Indonesia!

Zakiyuddin menjelaskan bahwa Kekayaan kebudayan Indonesia dapat dilihat pada data dari Statistik Kebudayaan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2021.

Berdasarkan statistik tersebut Indonesia memiliki 439 museum, 20 taman budaya, 488 desa adat, 176 cagar budaya, dan 2.228 komunitas budaya.

Angka yang sangat besar membuat masyarakat dan pemerintah harus dapat bekerja lebih ekstra untuk melestarikan kebudayaan. Globalisasi dan perkembangan TIK yang berpotensi melunturkan kebudayaan dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk terus melestarikan kebudayaan, “Ungkap Zaki.

“Globalisasi adalah proses mendunianya suatu hal sehingga batas antara negara menjadi hilang. Globalisasi didukung oleh berbagai faktor, seperti perkembangan teknologi, transportasi, ilmu pengetahuan, telekomunikasi, dan sebagainya yang kemudian berpengaruh pada perubahan berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat.” Kata Zaki.

Zaki menmbahkan bahwa Kebudayaan lokal adalah kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu, dimana kebudayaan tersebut berbeda dengan kebudayaan yang ada di tempat lain. Oleh karena itu, kebudayaan lokal harus dilestarikan agar kebudayaan tersebut tidak punah dan tidak diakui oleh negara lain,

Karena kebudayaan lokal dapat menjadi identitas dan warisan tak ternilai dari sebuah kelompok masyarakat atau negara,”Katanya.

“Problematika Budaya Lokal di Era Globalisasi yaitu Modus dan skala globalisasi telah berubah. Sekarang, dunia mengalami Revolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki globalizing force dominan sehingga batas antarwilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti yang pernah diprediksikan McLuhan.

Pola konsumsi masyarakat juga beralih pada makanan-makanan cepat saji (fastfood) yang bisa didapatkan di restoran. Pizza, spaghetti, hamburger, fried chicken dianggap lebih menarik daripada makanan lokal. Aneka makanan itu menawarkan kepraktisan. Masyarakat menilai globalisasi telah mendorong terciptanya kecepatan, efisiensi, efektivitas yang bermuara pada kepraktisan dalam segala hal.” Jelas zaki.

Zaki mengungkapkan bahwa Globalisasi adalah sebuah kondisi tak terelakkan yang harus disikapi secara strategis oleh semua negara, termasuk Indonesia. Prosesnya yang menyebar ke segala arah menembus batas wilayah negara bangsa mendorong terciptanya lalu lintas budaya lokal yang kemudian bermetamorfosis menjadi budaya yang dianut masyarakat global.

Akibatnya, budaya lokal menghadapi ancaman serius dari budaya asing yang mampu secara cepat masuk ke dinamika kehidupan masyarakat lokal melalui media komunikasi dan informasi, ” Pungkas Zaki.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close