Pemerintahan

Selamatkan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan Investigasi dan Audit

Jabarplus.com – Berdasarkan laporan PT KAI (Persero), kebutuhan investasi proyek KCJB membengkak dari 6,07 miliar dolar AS atau sekitar Rp 86,67 triliun (kurs 1 USD = Rp 14.280 ) menjadi 8 miliar dolar AS atau naik 1,9 miliar dolar AS, setara Rp 114,24 triliun.Setelah diadakan efisiensi ternyata dapat turun sedikit dari perkiraan awal mencapai 8,6 miliar dolar AS atau setara Rp 122,8 triliun. Selisih ini membutuhkan injeksi PMN lagi sebesar Rp 4,1 triliun kepada KCIC melalui PT KAI (Persero).Belum lagi, terdapat biaya tidak terduga pada pengadaan lahan yang dapat membengkak hingga 35 persen yang disebut KCIC.Pada proses pengadaan lahan, di dalamnya terdapat pengerjaan relokasi fasos dan fasum, relokasi SUTT PLN, relokasi utilitas PDAM/Pertamina/Telkom, jalan akses, dan auxilarry building yang belum didetailkan dalam perencanaannya.

Mulai dari Halim lalu berhenti di Karawang, Walini, dan Tegalluar. Jarak ini terlalu pendek bagi HSR untuk digeber dengan kecepatan maksimal 350 kilometer per jam. Sementara di negara lain HSR berjalan dengan jarak infrastruktur rata-rata 400-an kilometer.Memang travel time dari Jakarta ke Bandung dengan KCJB diproyeksikan hanya 36 menit. Namun untuk menuju Stasiun Halim, memerlukan waktu puluhan menit, dan turun di Padalarang lalu ke Kota Bandung juga memerlukan waktu tambahan.

Tampaknya, KCIC masih perlu belajar dari KA Bandara Jakarta dan LRT Palembang yang belum berhasil menjadi angkutan umum pilihan.Hal ini makin menguatkan argumen bahwa membangun infrastruktur transportasi KA tidak hanya membangun atau mempersiapkan sarana dan prasarana saja namun wajib mempersiapkan calon penggunanya juga.Siapa yang akan dibidik calon pengguna HSR Jakarta-Bandung ini?Ada empat segmen yang terbiasa melakukan perjalanan dari Jakarta-Bandung rutin, yakni: pelanggan KA Parahyangan, pengguna mobil pribadi, pengguna travel dan pengguna bus umum.Bila yang dibidik adalah segmen pengguna jalan tol, saya prediksikan akan sulit jika stasiun keberangkatan dimulai dari Halim.Barangkali penumpang dengan radius 10 kilometer dari Halim yang paling berpeluang menggunakan KCJB tersebut.

Apabila tetap diupayakan tambahan biaya dari negara, yang paling untung tetap dari pihak konsorsium China.Hal ini karena kita membeli rel, fasilitas operasi (sinyal, telekomunikasi, listrik) KA dan sarana KA impor dari China.Apa pun permasalah proyek KCJB ini harus cepat diselesaikan agar tidak membesar lagi pembiayaannya, mengingat proses konstruksi sudah mencapai 70 persen.Dan yang terpenting pembiayaannya tidak membebani keuangan negara, apalagi keuangan negara kita masih proses mencari stabilitas perekonomian karena berusaha bangkit dari pandemi Covid-19.Skema pembiayaan tetap dikembalikan seperti konsep semula business to business bukan government to business.

Di sisi lain, apabila PMN (APBN) tetap dikucurkan tentunya akan menyalahi komitmen awal seperti yang tertulis dalam Pasal 4 Ayat (2) Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat antara Jakarta Bandung.Beleid ini menyebutkan, “Pelaksanaan penugasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta tidak mendapatkan jaminan Pemerintah.”Sebaiknya proyek KCJB ini diberhentikan dulu sementara untuk segera diaudit dan diinvestigasi untuk mencari kekeliruan dalam perhitungan bisnisnya.Karena sejatinya, untuk trase KCJB ini juga tidak banyak membeli lahan baru karena menggunakan lahan jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Source : Kompas

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close