EdukasiSerbaneka

Riset Mahasiswa Magister Filsafat Budaya dan Religi Universitas Parahyangan ke Kampung Adat Cireundeu, Cimahi

Cimahi, Jabarplus – Di Indonesia sendiri, faktanya masih ada orang-orang yang tetap mampu menjaga secara konsisten nilai-nilai toleransi agama serta adat dan budaya.

Kampung Adat Cireundeu adalah sebuah desa adat yang mampu menjaga toleransi dan nilai luhur adat istiadat secara turun-temurun.

Kampung Adat Cireundeu terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Dikelilingi oleh gunung, tepatnya terletak di lembah Gunung Cimenteng, Gunung Kunci, dan Gunung Gajahlangu.

Nama Kampung Cireundeu sendiri diambil dari nama “pohon reundeu” yang banyak tumbuh di sekitar wilayah tersebut dan dipercaya memiliki khasiat sebagai tanaman herbal untuk penyembuhan banyak penyakit.

Kampung Cireundeu sendiri dihuni 65 kepala keluarga atau 800 jiwa lebih, yang sebagian besar bermata pencaharian bertani ketela. Kampung Adat Cireundeu memiliki luas 64 ha terdiri dari 60 ha untuk pertanian dan 4 ha untuk pemukiman.

Sebagian besar penduduknya memeluk dan memegang teguh kepercayaan  Sunda Wiwitan atau Sunda Karuhun atau bisa disebut Agama Jawa Sunda hingga saat ini.

Selalu konsisten dalam menjalankan ajaran kepercayaan serta terus melestarikan budaya dan adat istiadat yang telah turun-temurun dari nenek moyang mereka. Kepercayaan tersebut dibawa oleh Pangeran Madrais yang berasal dari Kesultanan Gebang, Cirebon Timur sejak tahun 1918.

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu ini pun melakukan Upacara 1 Sura, hari raya bagi pemeluk aliran kepercayaan. Keunikan dari kampung ini adalah mengonsumsi ketela atau singkong (rasi) sebagai makanan pokok.

Saat Redaksi tiba di desa adat ini, di mulut jalan Desa Cireundeu  terdapat tulisan Hanacaraka “Wilujeung Sumping di Kampung Cireundeu” yang artinya selamat datang di Kampung Cireundeu.

Beberapa saat berjalan, Redaksi bertemu Abah Emen selaku Sesepuh atau Ketua Adat Cireundeu. Abah Emen bercerita tentang esensi dan falsafah yang dipegang teguh serta kearifan lokal yang turut terjaga di Cireundeu termasuk konsumsi rasi (beras singkong).

“Kehidupan kami tidak terlepas dari falsafah yang secara turun-temurun diamanatkan dari para leluhur, yakni Pangeran Sepuh atau lebih dikenal Pangeran Madrais,” kata Abah Emen

Abah Emen meyakini sebagai sebuah agama yang besar. Agama leluhur bangsa yang sangat peduli terhadap alam dan sopan santun. Pandangan masyarakat adat Cireundeu terhadap agama adalah ageman (pegangan) untuk tuntunan hidup (keselamatan) yang tak terlepas dari pemaknaan budaya yang diartikan ketika seseorang beragama maka secara tidak langsung dan tidak disadari sedang menjalankan dan memaknai budaya yang melekat pada agama yang dianut.

Semakin tingginya arus modernisasi banyak membuat suatu adat istiadat terdahulu menjadi ditinggalkan atau bahkan hilang. Namun, hingga saat ini masyarakat adat Cireundeu diyakini masih memegang adat istiadatnya.

Salah satu ritual peribadatan yang dilakukan oleh masyarakat kampung Cireundeu ini adalah dengan menggelar Upacara 1 Sura yang merupakan hari raya bagi pemeluk aliran kepercayaan. Bagi masyarakat Kampung Adat Cireundeu perayaan 1 Suro layaknya lebaran bagi umat Islam. Sebelum tahun 2000, saat perayaan mereka selalu menggunakan pakaian baru.

Namun setelah adat mereka dilembagakan sehingga pada saat kaum laki-laki menggunakan pakaian pangsi warna hitam dan ikat kepala dari kain batik. Sedangkan untuk kaum perempuan menggunakan pakaian kebaya berwarna putih.

Gunungan buah-buahan yang dibentuk menyerupai janur, nasi tumpeng rasi, hasil bumi seperti rempah-rempah dan ketela yang menjadi pelengkap wajib dalam ritual ini. Selain itu kesenian kecapi suling, ngamumule budaya Sunda serta wuwuhan atau nasihat dari Sesepuh atau Ketua Adat menjadi rukun dalam upacara 1 Suro.

Selain itu, keunikan lain dari kampung adat yang satu ini dapat dilihat dari makanan pokok yang di konsumsi oleh warga masyarakat Kampung Cireundeu yaitu ketela atau singkong.

Beralihnya makanan pokok masyarakat adat Kampung Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong di mulai kurang lebih tahun 1918, yaitu di pelopori oleh Ibu Omah Asnamah, Putra Bapak Haji Ali yang kemudian di ikuti oleh saudara-saudaranya di Kampung Cireundeu.

Ibu Omah Asnamah mulai mengembangkan makanan pokok non-beras ini, berkat kepeloporannya tersebut Pemerintahan melalui Wedana Cimahi memberikan suatu penghargaan sebagai “Pahlawan Pangan”, tepatnya pada tahun 1964.

Rasi sebagai makanan pokok warga dan tradisi Perayaan 1 Sura menjadi hal yang menarik yang  dipertahankan. Pemerintah telah menetapkan Kampung Adat Cireundeu sebagai kampung adat yang sejajar dengan Kampung Naga (Tasikmalaya), Kasepuhan Cipta Gelar (Banten, Kidul, Sukabumi), Kampung Dukuh (Garut), Kampung Urug (Bogor), Kampung Mahmud (Bandung), dan kampung adat lainnya.

Masyarakat adat Kampung Cireundeu ini sangat memegang teguh kepercayaannya, kebudayaan serta adat istiadat mereka. Mereka memiliki prinsip “Miindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman” arti kata dari “Miindung ka Waktu” ialah kita sebagai warga kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing. Sedangkan “Mibapa ka Jaman” memiliki arti masyarakat Kampung Adat Cireundeu tidak melawan akan perubahan zaman akan tetapi mengikutinya seperti adanya teknologi, televisi, alat komunikasi berupa handphone, dan penerangan.

Masyarakat ini punya konsep kampung adat yang selalu diingat sejak zaman dulu, yaitu suatu daerah itu terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

Leuweung Larangan (hutan terlarang) yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya karena bertujuan sebagai penyimpanan air untuk masyarakat adat Cireundeu khususnya.

Leuweung Tutupan (hutan reboisasi) yaitu hutan yang digunakan untuk reboisasi, hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya namun masyarakat harus menanam kembali dengan pohon yang baru. Luasnya mencapai 2 hingga 3 hektar.

Leuweung Baladahan (hutan pertanian) yaitu hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu. Biasanya ditanami oleh jagung, kacang tanah, singkong atau ketela, dan umbi-umbian.

Keunikan yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Adat Cireundeu adalah adat istiadat dan kepercayaan yang mereka anut yaitu Sunda Wiwitan atau Sunda Karuhun yang pertama kali diajarkan oleh Pangeran Madrais atau yang lebih dikenal dengan nama  Pangeran Sadewa Alibassa yang merupakan keturunan Kesultanan Gebang yang berada di wilayah Cirebon Timur pada tahun 1918.

Salah satu pengurus Kampung Adat Cireundeu, Neneng Suminar (37) menuturkan, Kampung Adat Cireunde memiliki ciri khas dalam mengonsumsi pangan. Masyarakat di sini, lanjut Neneng, selalu mengonsumsi singkong atau ketela yang telah diolah yang dinamakan rasi (beras singkong) sebagai makanan pokok dan ini telah terjadi sejak tahun 1918.

“Awal mulanya waktu sawah-sawah yang berada di sekitar mulai mengering. Para tetua adat menginstruksikan seluruh warga masyarakat yang berada di Kampung adat untuk menanam ketela atau singkong sebagai pengganti padi yang kemudian pada tahun 1924 masyarakat mulai terus mengonsumsi rasi sebagai pengganti nasi sampai hari ini,” tuturnya.

Neneng menjelaskan, masyarakat adat yang tinggal di Cireundeu mengolah singkong dengan cara digiling, diendapkan dan kemudian disaring sehingga menghasilkan aci atau sagu. “Ampas dari olahan sagu kemudian dikeringkan kemudian menjadi rasi atau beras singkong yang menjadi makanan pokok masyarakat adat,” jelasnya.

Kampung Adat Cireundeu tak hanya menjadi destinasi wisata budaya, namun juga edukasi bagi mahasiswa yang sedang melakukan riset. Salah satunya, Nunung Sanusi, Mahasiswa Magister Filsafat Budaya dan Religi, Universitas Parahyangan.

Menurutnya, warga Kampung Adat Cireundeu memiliki falsafah yang luar biasa, salah satunya “Tiluhur Sausap Rambut, Tihandap Sausap Dampal” yang artinya meminta maaf sebab sadar diri sudah melakukan kesalahan atau punya dosa.

“Konsep kehidupan warga Cireundeu sangat sinergis dengan pemerintah. Mereka memaknai rasi sebagai simbol kemerdekaan warga Cireundeu,” ujarnya.

Nunung Sanusi mengungkapkan, warga Cireundeu ini konsisten tidak hanya dalam hal toleransi, namun juga dalam memegang teguh adat istiadatnya, yakni konsisten dalam hal mengonsumsi rasi. “Mereka tidak tergoda dengan pengaruh warga luar yang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, kuatnya pendirian warga Kampung Adat Cireundeu dalam menjaga adat istiadat leluhurnya menjadi kunci utama mereka bisa dijadikan role model yang mampu berinovasi pengolah penganan yang berasal dari singkong.

“Saya melihat potensi yang ada di kampung ini bisa dijadikan bahan penelitian. Tak hanya bagi peneliti dalam negeri tapi juga peneliti asing yang ingin mengeksplor lebih dalam tentang keunikan, falsafah, dan kebudayaan Desa Cireundeu,” jelasnya.

Nunung Sanusi mengaku, kedatangannya ke Kampung Adat Cireundeu ini bertujuan untuk silaturahmi, khususnya bertemu dengan Abah Emen selaku Ketua Adat Cireundeu. “Ini hanya awalan sebagai bahan untuk penelitian yang akan dilakukan ke depannya,” ujarnya. (C86)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close