Ekonomi Bisnis

OJK Jawa Barat Optimis Hadapi 2020

Bandung, JabarPlus – Bertempat di Gedung Sate, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Jawa Barat (Jabar) Tahun 2020 dengan tema “Ekosistem Keuangan Berdaya Saing untuk Pertumbuhan Berkualitas”. Hadir dalam pertemuan itu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan sejumlah pejabat dari industri keuangan dan perbankan di Jabar.

Ketua OJK Jabar Triana Gunawan mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III tahun 2019 yang terjaga stabil di level 5,02%, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat juga terjaga cukup baik di level 5,14%. Kondisi ini sejalan dengan stabilitas industri jasa keuangan Jawa Barat yang mampu tumbuh dan berkinerja baik di tahun 2019.

“Kinerja Perbankan tumbuh positif, tercermin dari pertumbuhan aset 6,64%, Dana Pihak Ketiga 8,35% dan kredit 7,03%. Fungsi intermediasi perbankan mengalami moderasi namun masih tergolong cukup optimal, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang tercermin dari likuiditas memadai pada level 92,06% dan rasio kredit bermasalah terjaga pada level 3,18%,” jelasnya, Kamis (30/01/2020).

Dari sisi kinerja BPR dan BPS Syariah yang beroperasi di Jawa Barat juga mengalami pertumbuhan positif, tercermin dari pertumbuhan aset 12,42%, Dana Pihak Ketiga 11,88% dan kredit 12,36%. Bahkan untuk pertumbuhan kredit, BPR mencatatkan angka pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit Bank Umum. Selain itu, fungsi intermediasi BPR juga tergolong cukup tinggi, tercermin dari tingkat LDR 107,44%, namun dengan NPL yang cukup tinggi pada level 8,28%.

Sementara kinerja Perbankan syariah di Jawa Barat juga tumbuh stabil dan positif yang tercermin dari pertumbuhan aset 11,36%, Dana Pihak Ketiga 11,42% dan pembiayaan 10,71%. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang dari kinerja Bank Umum Syariah dibandingkan dengan BPRS. Namun demikian, share perbankan syariah dimaksud masih tergolong kecil yaitu hanya 8,36% dibandingkan dengan total aset perbankan Jawa Barat sebesar Rp.59,9 Triliun.

“Secara umum hal tersebut, disebabkan masih terdapatnya kendala permodalan, SDM, teknologi, produk dan layanan yang belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara jika dilihat dari potensi Jawa Barat dengan jumlah penduduk 85% yang mayoritas beragama islam dan jumlah pesantren mencapai sekitar 12.000, kiranya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah masih perlu lebih kita tingkatkan,” tambahnya.

Sedangkan hal-hal yang perlu dicermati antara lain adalah masih rendahnya tingkat literasi keuangan Jawa Barat sebesar 37,43% atau dibawah rata-rata nasional yang sebesar 38,03%, masih maraknya tawaran investasi ilegal di Jawa Barat yang banyak menimbulkan kerugian dan disrupsi digital dengan perkembangan teknologi menuju revolusi industri 4.0.

“Ingin kami sampaikan bahwa OJK Jawa Barat memiliki optimisme dalam mengarungi tahun 2020. Kami berkomitmen untuk terus mendorong agar OJK di Jawa Barat tidak hanya memiliki kinerja yang baik tetapi dapat berperan lebih kontributif melalui perluasan akses keuangan bagi masyarakat,” (Jo)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close